Bintangtimur.id — Jakarta. Kemarin petang, saya menghadiri acara peresmian sekolah sepak bola Bali United Kristal di Kupang – NTT. Walau dalam keterbatasan waktu, saya memutuskan untuk hadir dalam momen ini sebagai dukungan terhadap pengembangan sepak bola usia dini di NTT. Minggu lalu, saya mengunjungi akademi sepak bola Juventus, Real Madrid dan Barcelona. Masih dalam asa yang sama, melihat infrastruktur lapangan dan tata kelola akademi sepak bola terbaik dunia untuk bisa diambil pembelajarannya di tanah air.

Hari ini bersama Wapres Jusuf Kalla, Menko Puan Maharani, Menteri PU Basuki Hadimuljono dan pihak pelaksana memantau rehabilitasi Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK).

Dalam rangka menyukseskan perhelatan Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang, sejumlah proyek pembangunan fasilitas utama dan pendukung sudah dan sedang disiapkan pemerintah.

Salah satu proyek terbesar di Jakarta adalah rehabilitasi venues dan kompleks SUGBK Senayan yang dilakukan di bawah Direktorat Jenderal (Ditjen) Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
Tak main-main Ditjen Cipta Karya mengalokasikan anggaran Rp 2,8 triliun. Paket-paket pekerjaan yang dimaksud, dilaksanakan dengan menggunakan sistem Kontrak Terintegrasi Rancang Bangun (Design & Build) dan Sistem Kontrak Konvensional.

Kehadiran kami untuk memastikan bahwa proyek rehabilitasi ini berjalan sesuai standar dan harapan. Kami diberi penjelasan bahwa SUGBK ini dibangun melalui kerja sama dengan Pemerintah Rusia puluhan tahun silam. Ketika saat ini direhab kondisi beton, atap , kayu, kursi dll, masih dalam kondisi utuh, masih kuat.

Pertanyaannya adalah apakah proses rehab ini bisa tetap mempertahankan kualitas asali atau bahkan bisa melebihi dari perencanaan dan pekerjaan aslinya? Selain itu, jenis rumput yang dipakai apakah kualitasnya sama atau justru sebaliknya?

Demi marwah dan martabat bangsa, Kami sangat mendukung upaya rehabilitasi ini. Apalagi sejak tahun 1962 silam, baru pada saat ini Jakarta akan menjadi tuan rumah Asian Games 2018 dengan penggunaan venue dan stadion GBK. Sebagai tuan rumah yang baik, tentu kita mesti mempersiapakan segala kebutuhan dan fasilitas secara baik dan prima. Namun, kami tetap memberi catatan agar rehabilitasi ini tidak boleh mengorbankan kualitas pekerjaan hanya karena keterbatasan waktu. Penggunaan kontrak design and build harus benar-benar terhindar dari kealpaan menjaga kualitas pekerjaan. Juga penggunaan rumput di stadion utama mesti memanfaatkan rumput terbaik. Ini demi harga diri bangsa di hadapan bangsa-bangsa Asia lainnya.

Semoga berbagai proses rehabilitasi ini dapat selesai pada saatnya sehingga sebagai tuan rumah, Jakarta siap menyambut Asian Games 2018 mendatang.