Semalam ketika berada di ibukota persis di bagian selatan, pecahlah tragedi bom bunuh diri Kampung Melayu yg hingga saat ini telah menewaskan 3 orang dan lainnya terluka. Berbagai spekulasi, analisis, asumsi hingga penerawangan dibuat untuk tragedi ini. Kampung Melayu tak mesti layu.

  1. Saya teringat pada tesis Uskup Agung Kolombia Dom Helder Camara, violence against violence. Kekerasan melawan kekerasan. Lahir teori spiral kekerasan. Isinya: kekerasan yang satu dapat menghasilkan kekerasan yang lain. Dalam konteks Kampung Melayu, kita berharap spiral kekerasan ini tidak berlanjut. Karena itu, jalan hukum yang tertib tegas mesti dilalui. Kita dukung dan berada di jalan ini.
  1. Tragedi Kampung Melayu adalah tentang ulah kelompok-kelompok yang tidak menghendaki bangsa ini hidup dalam damai, dalam ketenteraman, dalam keberagaman. Radikalisme dengan panji apapun mesti ‘digebuk dan ditendang’. Karena itu, negara mesti hadir. Hadir dengan tegas. Negara tidak boleh kalah pada kelompok radikal maupun teroris dan sejenisnya. Negara mesti kuat. Telusuri perisitiwa ini dan ungkap tuntas pelaku, jaringan aktif, sleeper cell yang berafiliasi pada kelompok2 ini. Jangan memelihara api dalam sekam atau terus berjalan dengan sepatu yang berkerikil tajam. Kita bangsa besar, bangsa bermartabat yang tidak boleh kalah pada terorisme.
  1. Pasca tragedi ini, berbagai gambar tentang potongan tubuh korban maupun pelaku bermunculan di sosial media. Apakah itu adalah bentuk protes dan bela rasa anda? Boleh protes, silahkan berbela rasa namun tidak bijak dengan kita menyebarkan gambar-gambar semaca itu. Efek terorisme adalah menciptakan multi efek ancaman dan ketakutan pada semakin banyak orang. Dengan menyebarkan foto-foto itu kita telah turut ‘mengambil peran’ teroris menyebarkan ketakutan pada sesama. Ini keuntungan bagi mereka. Dalam kondisi publik yang terancam dan takut, mereka bisa lebih leluasa beraksi. Jika bela rasa kita mesti disalurkan, berdoalah bagi para korban yg tidak bersalah itu. Berdoalah bagi bangsa dan negara ini. Jika mesti ada protes pada aksi ‘thanatos’ (kematian) ini, proteslah dengan tidak menyebarkan gambar-gambar tersebut.
  1. Kita adalah merah putih. Bukan merah maron, merah hati. Bukan juga putih hitam, putih pucat. Kita masih merah putih. Kita Indonesia. Kaya dalam keberagaman. Saling mengingatkan sebagai bangsa itu perlu. Saling menjaga sebagai bangsa itu harus. Kita mesti satu melawan radikalisme, terorisme. Belajar dari Kampung Melayu, mari kita jaga, awas pada kampung kita masing-masing agar damai terus tercipta (pacem in terra) dan kekerasan ditolak.

 

Selamat berjuang…

Melayu tak mesti layu…

Salam pro vita…