Oleh Isidorus Lilijawa

 

(Pencinta Sepak Bola – Warga Ngada Diaspora)

 

 

Bulan Desember 2016 menjadi bulan berkat bagi persepakbolaan NTT. Berkat itu menyata dalam dua momen ini. Pertama, pada tanggal 5 Desember 2016, Menteri Pemuda dan Olahraga RI, Imam Nahrawi meresmikan Sekolah Sepak Bola (SSB) Bintang Timur di Atambua Kabupaten Belu yang didirikan Bapak Fary Francis. Kedua, kesebelasan PSN Ngada berhasil melaju ke final Liga Nusantara 2016, dan akan berhadapan dengan Perseden Denpasar di laga final, 11 Desember 2016 mendatang di Stadion Manahan Solo. Dua momen ini menjadi tanda kebangkitan sepak bola NTT.

 

Dunia persepakbolaan NTT masih kental dengan beberapa persoalan klasik ini, antara lain: 1) Belum adanya fasilitas olahraga sepak bola yang memadai dan standar seperti lapangan sepak bola, dan sarana latihan lainnya. 2) Belum adanya pembinaan sepak bola usia dini (SSB) yang berkelanjutan dan dikelola dengan baik. 3) Tidak adanya kompetisi sepak bola rutin untuk menemukan dan menempa para pemain lokal. 4) Manajemen PSSI di daerah yang tidak berjalan dengan baik. 5) Para wasit dan pelatih yang kebanyakan tidak memiliki lisensi kepelatihan atau perwasitan. 5) Kepengurusan PSSI di Provinsi maupun daerah yang kental dengan budaya birokrasi dan mengabaikan pendekatan hati dan profesionalitas dalam pengelolaan sepak bola.

 

Momen Bintang Timur dan momen PSN Ngada setidaknya menjawab dua problem klasik di atas yakni soal pembinaan sepak bola usia dini (SSB) yang profesional dan berkelanjutan serta adanya kompetisi untuk mematangkan dan menemukan talenta-talenta muda pesepak bola NTT.

 

 

Fenomen PSN

 

Publik sepak bola NTT saat ini sedang bersuka cita atas keberhasilan PSN Ngada melaju ke final Liga Nusantara 2016. Euforia publik itu ternyata bukan saja milik warga Ngada dan NTT, tetapi warga NTT diaspora. Berbagai ungkapan dukungan, harapan, dan ekspresi kegembiraan dinyatakan secara gamblang di sosial media maupun media cetak. Prestasi ini adalah kerinduan luar biasa. Kerinduan untuk mengukir prestasi atas dua hal ini: PSN Ngada rindu membuktikan bahwa mereka bukan hanya jagoan di level NTT dan mereka rindu menempatkan nama NTT di posisi terhormat dalam peta sepak bola nasional.

 

Saya mengutip ulasan singkat seorang pencinta sepak bola, Bung Hancel Goru Dolu dalam VOXntt.com. Kabut gelap perlahan disibak. Nusantara kini ‘dipaksa’ menengok ke Ngada. Ke Flores, ke NTT. Penampilan apik dan meyakinkan skuad PSN Ngada telah membuka mata publik sepak bola nasional. PSN Ngada menaklukan jagat sepakbola NTT itu sudah biasa. Sangat biasa malah. Terbukti mereka menjadi juara terbanyak turnamen El Tari Memorial Cup (ETMC). Beberapa tahun belakangan ini, ada juga perhelatan baru bernama Piala Gubernur NTT. Turnamen antar kabupaten yang khusus digelar untuk level junior. Seakan ingin menegaskan dominasinya, PSN Ngada pun langsung mendominasi turnamen baru ini dengan menjadi juara 4 kali berturut-turut. Itulah tiket yang membawanya ke Liga Nusantara 2016 ini. Menariknya, semua catatan impresif  PSN itu selalu dibukukan di luar ‘kandang’nya. PSN selalu mengangkat trofi juara di panggung kandang lawan. Juga tak pernah memakai jasa pemain dari “luar”. Mereka, tak pelak lagi, adalah tim dengan mental tandang terbaik di regional NTT.

 

Liga Nusantara 2016 datang bagai fajar pagi hari. Di kompetisi yang melibatkan juara dari setiap provinsi itu, PSN muncul dengan status tak terkalahkan, dan kini telah lolos ke partai final secara mengagumkan. Saya pun bersepakat dengan bung Hancel bahwa ada mutiara lain yang selama ini lepas dari pandangan. Ada gudang bagi bibit-bibit sepak bola yang selama ini tak pernah didatangi para pemandu bakat. Ada wilayah di sudut republik bernama Ngada yang potensi-potensi hebatnya telah bertahun-tahun disia-siakan.

 

Tanggal 11 Desember 2016 nanti adalah pembuktian fenomen PSN Ngada. Dua tim dari Sunda Kecil berhadap-hadapan. Perseden Denpasar (Bali) mengalahkan Persiku Kudus (Jawa Tengah) dan PSN Ngada (NTT) menyingkirkan Blitar United (Jawa Timur). Menariknya, dari keempat semifinalis, hanya PSN Ngada yang belum pernah merasakan atmosfer Divisi Utama Liga Indonesia. Tiga tim lainnya adalah tim-tim yang sarat pengalaman di pentas nasional. Lolos ke babak knock-out pun masuk dalam kategori debutan bagi PSN, dan bahkan itu adalah target awalnya. Dengan situasi terkini, boleh dibilang, setiap laga yang dijalani oleh PSN saat ini adalah kerja-kerja memecahkan rekor dirinya sendiri.

 

Partai final juga menghamparkan fakta menarik lainnya. Jika Perseden adalah tim dengan pertahanan terbaik, maka PSN adalah tim dengan penyerangan terbaik di Liga Nusantara ini. Meski telah kebobolan 5 gol, tapi PSN berhasil membobolkan gawang lawan sebanyak 19 gol. Sementara itu, tim Perseden Denpasar telah mencetak 13 gol dan hanya kebobolan 2 gol. Nama besar, faktor sejarah, pengalaman dan performa mereka adalah jaminan mutu. PSN Ngada, sekali lagi, akan menghadapi salah satu lawan terbaik.

 

Sejauh ini, kedua tim belum pernah merasakan kekalahan. Mereka cuma membutuhkan satu laga, untuk menentukan siapa yang tak pernah kalah, siapa yang terbaik. Satu laga untuk menentukan siapa jagoan dari “sunda kecil” yang berpesta di bumi Jawa. Itulah PSN Ngada! Di tengah dukungan yang minim, kecuali dari orang-orang Ngada dan segelintir non Ngada, PSN Ngada telah menapaki partai final Liga Nusantara 2016.

 

 

Filosofi Oba Bha’i

 

PSN Ngada dan filosofi oba bha’i bagai dua sisi mata uang. PSN Ngada itu oba bha’i, dan oba bha’i itu khasnya PSN Ngada. Jika kita pernah menyaksikan dari dekat pertandingan-pertandingan yang dilakoni PSN Ngada, maka kata-kata ini sering terdengar. Bahkan dalam percakapan setiap hari di kalangan masyarakat Ngada, kedigdayaan PSN Ngada dilukiskan dengan sangat singkat, jelas dan padat: oba bha’i.

 

Oba bha’i itu bahasa biasa, sederhana, namun mengandung muatan filosofis. Arti harafiahnya, ‘tidak ada obat lagi’. Dalam konteks medis berarti tidak ada lagi obat untuk menyembuhkan suatu penyakit. Dalam konteks sepak bola di Ngada artinya sudah tidak ada yang bisa memberikan perlawanan lagi. Dari sono mentalnya adalah mental juara. Tidak ada obat penawar lagi yang dapat meragukan mental dan karakter para pemain PSN Ngada sebagai pejuang sejati. Tidak ada halangan apapun yang menghalangi hasrat PSN Ngada untuk merebut trofi kejuaraan.

 

Dalam konteks orang Ngada, frasa oba bha’i ini mengandung daya magis tersendiri. Sudah menjadi frasa umum untuk menegaskan sesuatu yang luar biasa. Tidak hanya dalam konteks bola. Di luar bola pun, frasa ini sering diungkapkan untuk menegaskan sesuatu perjuangan yang luar biasa, yang tidak dapat dibendung oleh aneka rintangan. PSN Ngada dan filosofi oba bha’i ingin menyampaikan kepada publik bahwa tidak ada obat lagi untuk melawan kedigdayaan PSN Ngada dalam turnamen Liga Nusantara ini.

 

Sepak bola dan orang Ngada memiliki ikatan emosional yang kuat sekali. Hal ini telah menjadi tradisi, dan karenanya diwariskan turun-temurun antusiasme ini. Sepak bola bisa dibilang juga ‘agama’ bagi orang Ngada, yang selalu dihormati, diberi ruang, dipatuhi dan diperjuangkan dengan sungguh-sungguh hingga puncak. Jangan heran jika di Ngada, yang suka sepak bola bukan kaum laki-laki saja. Kaum perempuan pun menjadi pihak yang sangat fanatik dengan sepak bola. Dari mulut-mulut mereka inilah frasa oba bha’i meluncur dengan indahnya.

PSN Ngada memang oba bha’i dalam Liga Nusantara 2016 ini. PSN Ngada akan membuktikan itu dalam lakon final 11 Desember 2016 mendatang. Jika tidak ada lagi obat penawar bagi hasrat merengkuh trofi Liga Nusantara, maka kita tetap memohon agar Dewa Zeta Nitu Zale (Tuhan, dalam teologi orang Ngada) tetap merestui niat dan langkah laskar Jaramasi ini. Ketika tidak ada apapun yang bisa menghalangi PSN Ngada meraih juara, biarlah kita tetap memberi diri sebagai suplemen-suplemen kecil bagi PSN Ngada dengan doa, dukungan, dan jika bisa, menonton langsung partai final itu. Ngada juara, NTT bersinar. PSN Ngada, oba bha’i la. Dewa beka! (Tuhan memberkati).