Petang kemarin saat sedang menyaksikan latihan para siswa SSB Bintang Timur, seorang ibu paruh baya menghampiri saya dan Pak John Leki (Manajer Bintang Timur) yang sedang berdiri di pinggir lapangan. Ia menyampaikan niatnya untuk bertemu dengan Pak Abdul Muis, panitia Danone Cup. Saya menyampaikan bahwa yg bersangkutan sedang mengikuti pelatihan dan boleh bertemu bung Alma yg juga mengurus Danone cup.

Kami pun berbincang-bincang di bawah lopo SSB. Pertanyaan pertama adalah apakah anak-anak yg akan ikut Danone cup bisa bermain tanpa sepatu bola? Kami saling melempar pandang, sebelum sang ibu melanjutkan bicaranya. “Anak-anak dampingan kami senang bermain sepak bola. Ketika mereka tahu bisa ikut Danone cup, mereka sangat bersemangat untuk latihan. Anak-anak kami hanya ada bola. Namun sepatu bola tidak semuanya ada. Jadi kalau main bola, sepatunya dipinjamkan bergilir atau dipakai bergantian. Kostum mungkin kami bisa beli. Tetapi sepatu cukup susah. Makanya tadi saya tanya, apakah bisa ikut Danone cup walau tidak pakai sepatu bola?”

* * *

Namanya ibu Adriana Dian Luan. Disapa ibu Dian. Sehari-hari mengurus kesekretariatan Yayasan Wadah (Wanita dan Harapan) Atambua, juga mengelola komunitas Wadah Weliurai. Sudah beberapa kali ia datang ke lokasi SSB. Bukan tanpa maksud. Anak nomor duanya yg lelaki adalah siswa SSB Bintang Timur. Bergabung sejak awal, saat SSB masih menggunakan lapangan SMA Surya Atambua sebagai tempat latihan. Ibu ini merasa sangat berterima kasih karena anaknya bisa menjadi siswa SSB Bintang Timur.
“Anak saya senang sekali bisa masuk SSB ini. Sebagai orang tua kami sangat berterima kasih kepada Bapak Fary Francis yg sudah merintis dan mendirikan SSB ini. Ini berkat Tuhan bagi kami di Belu.” Ibu Dian berkisah, anaknya sejak usia 3 tahun sudah ‘gila bola’. Saat Piala dunia, ia memaksa kami untuk nobar (nonton bareng) hingga dini hari. Saat mulai sekolah, pernah menangis setiap menonton pertandingan sepak bola dan memaksa kami untuk memasukannya ke sekolah sepak bola di Bali. “Sebagai orang tua tentu kami tidak sanggup menyekolahkannya di SSB Bali. Namun kami terus mendorongnya untuk bermain sepak bola. Puji Tuhan doa dan harapan kami terkabul dengan hadirnya SSB Bintang Timur. Anak kami pun senang mimpinya masuk SSB terwujud.”

* * *

Panggilannya Jonjinyu. Nama lengkap Jose Mario. Usia 11 tahun. Kelas 6 SD di Atambua. Suatu hari setelah pulang dari latihan di SSB Bintang, dengan wajah penuh semangat bercerits kepada mamanya. “Mama, tadi Bapak Fary yang punya SSB beri pengarahan untuk kami di lapangan. Bapak Fary bilang ia tidak bangga jika ada yang menjadi juara dalam pertandingan sepak bola. Tetapi ia bangga jika anak-anak SSB sikapnya berubah menjadi disiplin, kompak, jujur, setia. Itu yg bapak Fary tekankan. SSB tidak hanya mencetak mental-mental juara. Tetapi membentuk kepribadian dan karakter.”
Ibu Dian melihat ada perkembangan yg baik dalam diri anaknya setelah di SSB. “Jonjinyu itu disiplin. Pagi sampai siang di sekolah. Lanjut les sampai jam 2 karena sudah di kelas 6. Sampai rumah jam 2.30 berdoa dan siap menuju lapangan. Setiap hari begitu. Kami di rumah selalu ada waktu untuk berdoa. Saya senang karena di SSB juga semuanya dimulai dan diakhiri dengan doa.”
Tentang perkembangan Jonjinyu di lapangan, coach Lipus Fernandez menilai Jonjinyu sudah semakin baik perkembangannya. “Skill dan teknik bermain bagus. Tinggal dibangun kerja sama tim. Arahan kita di lapangan bisa diikuti. Passing, dribling, kontrol bola sudah bagus. Jonjinyu termasuk yg kemajuannya cepat.”

Jonjinyu dan kawan-kawannya sekarang sedang ditempa untuk pertandingan Danone cup di bawah arahan coach Lipus dan coach Geraldo. Setiap sore mereka berlatih di lapangan SSB. Waktu belajar dan waktu berlatih bola tidak saling bertabrakan. Jonjinyu sudah memulainya dengan disiplin waktu.

* * *

Ketika Jonjinyu dan kawan-kawannya menikmati latihan di atas rumput hijau lapangan SSB, tidak demikian dengan sahabat-sahabatnya dari binaan Wadah. Ibu Dian berkisah, anak-anak dampingannya bermain bola untuk latihan meminjam lahan warga setempat. “Kami tidak punya lapangan. Yg biasa anak-anak pakai sekarang itu lahan orang. Ukurannya sekitar 10 x 10 meter. Lahan milik warga dekat komunitas Wadah Weliurai. Istri pemilik lahan kebetulan menjadi guru PAUD di Wadah. Jadi lahan dipinjamkan untuk olahraga. Itu pun seminggu sekali. Hanya pada hari Jumad. Selebihnya anak-anak bermain di lapangan desa setempat yg ukurannya tidak besar juga.”

Untuk latihan, anak-anak komunitas Wadah dilatih oleh calon Coach Eli Luan, yg sekarang sedang mengikuti kursus pelatih lisensi D nasional PSSI yg diselenggarakan SSB Bintang Timur. Ketika seminggu ini Eli mengikuti kursus pelatih, anak-anak didampingi asisten pelatih, Edy yg sehari-sehari sebagai security di SSB. Bagi ibu Dian keterbatasan sarana dan fasilitas tidak harus menutup kesempatan anak-anak mewujudkan mimpi mereka sebagai pemain sepak bola.

Hal yg paling berkesan adalah ketika beberapa waktu lalu, Ibu Dian datang ke SSB Bintang Timur untuk menyampaikan undangan natal bersama kepada pembina SSB Bapak Fary Francis. Sambil bercerita, Bapak Fary menyampaikan bahwa anak-anak dampingan komunitas Wadah bisa menggunakan fasilitas di SSB ini. Bahkan diminta untuk berpartisipasi dalam turnamen Danone cup. “Air mata saya jatuh mendengar ungkapan bapak Fary. Kami diberi kesempatan dan ruang. Imi adalah mimpi anak-anak dampingan kami bisa bermain bola di SSB. Mereka datang dari latar belakang yang penuh keterbatasan. Namun bapak Fary telah memberikan kesempatan istimewa itu bagi mereka.”
Komunitas dampingan Wadah selalu menjunjung tinggi kurikulum pendidikan karakter dan pembenahan mental. Sama seperti yg dilakukan SSB Bintang Timur. Itulah yg membuat para orang tua, khususnya ibu Dian senang.

Sambil mendengarkan arahan dari Bung Alma Costa terkait administrasi Danone cup, ibu Dian masih bertanya lagi soal sepatu itu. Apakah bisa anak-anak dampingannya bermain bola tanpa harus semuanya memakai sepatu? Kata bung Alma, diupayakan dulu agar bersepatu. Jika tidak bisa, kaki kosong pun bisa. Sepatu jangan jadi soal menguburkan mimpi-mimpi besar. Kaki kosong bukan halangan meraih harapan-harapan besar di batas negeri. Bermainlah dengan senang agar kesenangan lahir dalam permainan.

Selamat berjuang bagi Jonjinyu. Terus semangat untuk komunitas Wadah Weliurai. Profisiat buat ibu Dian. Mari bersama merenda asa di batas negeri…..(iso)