Tanggal 13 Januari 2017 lalu saya menulis kisah “Mimpi Jonjinyu hingga Sepatu Bergilir” yang kemudian diposting di FB dan WA. Ini adalah kisah seputar mimpi seorang Jonjinyu, siswa Sekolah Sepak Bola (SSB) Bintang Timur Atambua yang ingin sekali masuk SSB dan menjadi pemain sepak bola profesional. Ia memiliki sahabat-sahabat di komunitas dampingan Wadah yg ingin juga menjadi pemain sepak bola dan mau mengikuti Danone Cup namun banyak diantaranya tidak memiliki sepatu bola. Kegalauan ibu Diana, pendamping anak-anak komunitas Wadah ini adalah apakah anak-anak dapat mengikuti Danone cup walau beberapa diantaranya tanpa sepatu.
Postingan saya langsung mendapat respon dari Pendiri SSB Bintang Timur, Bapak Fary Francis. Melalui WA, beliau meminta saya untuk mencari sepatu buat anak-anak Wadah itu. Beliau rupanya mengetahui hasrat yang luar biasa dari anak-anak dampingan Wadah untuk berpartisipasi dalam Danone Cup. Saya lalu berkoordinasi dengan Ibu Diana pendamping komunitas untuk mendapatkan nomor-nomor sepatu. Menjelang sore, nomor-nomor itu sudah sampai di tangan saya. Rupanya, Bapak Fary Francis lebih memilih mencari sendiri sepatu-sepatu itu di Jakarta dan membawanya langsung dari Jakarta ke Atambua.

* * *

Tanggal 14 Januari 2017. Mewakili Bapak Fary saya  bersama om Yunius Koi Asa mengantarkan sepatu-sepatu itu bagi anak-anak Wadah. Saat itu mereka sedang berlatih di lapangan desa Kabuna, samping Akper Atambua. Mereka begitu bersemangat berlatih disaksikan orang tua dan para pendamping wadah. Kebanyakan berkaki kosong, hanya sekitar 4 orang yang mengenakan sepatu. Semangat mereka luar biasa. Di bawah arahan Edy sang asisten pelatih yang sehari-hari bekerja di SSB Bintang Timur, mereka mulai mempraktikan teknik passing dan control bola. Kami hanya bisa menyaksikan kegembiraan dan keceriaan mereka dari luar lapangan.
Waktu jedah latihan kami manfaatkan untuk berbicara mengenai maksud kedatangan kami. Para pemain membentuk formasi setengah lingkaran. Saya menyampaikan salam dari Bapak Fary yg tidak bisa hadir langsung karena sedang menyaksikan ujian praktik kursus pelatih lisensi D nasional di SSB Bintang Timur. Beliau menitipkan satu lusin sepatu bola buat anak-anak Wadah. Kiranya sepatu-sepatu dapat menjawab harapan mereka untuk bisa berlaga di Danone Cup dan memberikan motivasi sekaligus semangat agar terus berlatih dengan tekun sehingga bisa menjadi pemain sepak bola yang baik. Saya lalu menyerahkan sepatu-sepatu itu kepada Ibu Dian Luan selaku pengurus Wadah. Ia menyampaikan begitu banyak terima kasih kepada Bapak Fary Francis yg sudah menjawab harapan anak-anak Wadah dengan membelikan sepatu bola dan membawanya langsung dari Jakarta ke Atambua. Bahkan ia menuturkan beberapa waktu sebelumnya Bapak Fary juga menyumbang 5 buah bola kaki buat anak-anak Wadah. “Kami tidak bisa membalas kepedulian dan kebaikan ini. Tetapi kami yakin Tuhan mendengarkan doa-doa kami bagi siapa pun yang berkehendak baik untuk anak-anak ini dan masa depan mereka,” demikian kata ibu Dian. Saya juga menambahkan bahwa sepatu-sepatu itu disumbangkan ke komunitas bukan ke masing-masing pemain. Itu adalah inventaris Wadah. Setiap anak bisa menggunakannya saat berolahraga atau ada pertandingan.

Selepas itu, setiap pemain yang berkaki kosong dibagikan masing-masing sepasang sepatu. Mereka duduk beralaskan rumput dan mulai mengenakan sepatu-sepatu baru itu dipadu kaos kaki merah yang sudah disiapkan pendampingnya. Ada gurauan, tertawaan dan canda ketika mereka mengenakan sepatu-sepatu itu. Mereka benar-benar senang. Mimpi bermain bola dengan sepatu bola terwujud. Setelah mengenakan sepatu, kami berpose bersama. Lalu mereka kembali berlatih. Sang pelatih membiarkan mereka menendang bola dan berlari dengan menggunakan sepatu. Ada hal-hal yang lucu. Ada yang mengeluh tidak bisa menendang bola dengan baik. Ada juga yang merasa kakinya memikul beban berat ketika berlari. Bahkan ada yang berupaya melelaskan lagi sepatunya karena dirasa mengganggu. Namun itulah fakta awal beradaptasi dengan sepatu bola. Sang pelatih dan ibu pendamping terus menginstruksikan agar cepat beradaptasi dengan sepatu karena keesokan harinya mereka segera bertanding dalam turnamen yang resmi.

* * *

Minggu, 15 Januari 2017. Sebelum pukul 10.00 para peserta pertandingan berdatangan ke lapangan SSB Bintang Timur. Ada yang dari Kabupaten TTU, Kabupaten Malaka dan beberapa dari Atambua – Belu. Tidak ketinggalan tim Wadah. Mereka datang menggunakan 1 pick up. Turut serta para pendamping, guru dan para orang tua yang menggunakan sepeda motor. Terlihat gagah dengan kostum kuning dan sepatu-sepatu baru. Akhirnya harapan untuk terlibat dalam turnamen Danone cup terwujud. Mereka datang untuk bermain bola bersama kawan-kawan dari tempat lain. Kemenangan adalah harapan. Partisipasi adalah kegembiraan. Kegagalan tentu pembelajaran. Mereka berkumpul di salah satu lopo. Di situ mereka saling menyemangati dengan yel-yel ala Wadah.   

Sebelum pertandingan dimulai mereka berpose bersama Bapak Fary dan panitia. Suatu kebanggaan bisa bertemu dan bertatap langsung dengan sosok yang memupuk harapan anak-anak Wadah walau hanya melalui sepatu dan bola. Setelah bertemu dengan satu dua tim, mereka akhirnya berhadapan dengan tim Garuda Maubesi yang kemudian tampil sebagai pemenang. Penampilan anak-anak Wadah tidak mengecewakan. Mereka bermain baik. Cuma dewi fortuna memihak Garuda Maubesi. Terlihat di lapangan mereka sudah bisa mengendalikan ‘sepatu-sepatu baru’ itu. Ada yang pergerakan individunya bagus. Ibu Dian tidak kecewa dengan hasil pertandingan. Ia bersyukur anak-anak dampingannya bisa tampil dalam turnamen ini. Mereka akui, masih banyak hal yang harus dibenahi. Karena itu mereka bertekad untuk melakukan latihan rutin walau mesti meminjam lapangan yang berbeda-beda karena memang mereka belum memiliki lapangan sendiri. Hal itu tak menyurutkan semangat anak-anak untuk berlatih dan bermain bola. Mereka bertekad dalam pergelaran Danone Cup tahun depan mereka bisa tampil lebih baik.

Proficiat bagi komunitas Wadah Weliurai Kabuna dan anak-anak dampingannya yang sudah berpartisipasi. Sepatu itu hanya alas kaki. Namun harapan mesti terus menjadi alas hidup, bersama iman dan kasih…