Oleh: Ir. Fary Djemy Francis, MMA.

(Ketua Komisi V DPR-RI)

Tanggal 15 Mei 2017 lalu, saya melakukan  reses di Pulau Sumba. Turut bersama saya pada kesempatan ini adalah Dirjen Daerah Tertinggal, Daerah Tertentu, Daerah Khusus Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi, pihak Balai SDA dan Balai Jalan NTT. Salah satu tempat yang dikunjungi adalah Hotel Nihiwatu di Kecamatan Wanokaka. Visitasi kami ke hotel terbaik di dunia versi ajang World’s Best Travel Awards 2016 dari majalah Travel + Leisure berkaitan dengan pemantauan ruas jalan dari Waikabubak ke Nihiwatu yang terus diperjuangkan untuk bisa berkelas dunia. Apalagi akses itu menghubungkan pusat kota dan hotel terbaik dunia.

Soal Lokalitas

Ketenaran dan keterkenalan Hotel Nihiwatu ke seantero jagad mengundang pertanyaan: apakah yang membuat Nihiwatu itu begitu terkenal dan  menjadi hotel terbaik dunia? Pembelajaran apa yang kita dapatkan dari fenomena Nihiwatu ini?

Nihiwatu memanjakan para tamunya dengan beragam aktivitas. Mulai dari paket “safari spa” seharian penuh sampai eksplorasi pulau. Juga trekking menuju beberapa air terjun tersembunyi, pesawahan yang indah, desa lokal dan desa seniman. Ada pula piknik makan siang komplet dengan jamuan kelapa segar yang baru jatuh dari pohon. Occy’s Left, begitu nama private beach yang letaknya tidak jauh dari Nihiwatu. Ini adalah surf spot ternama di kalangan peselancar profesional. Tempat berselancar yang jauh dari hiruk pikuk Canggu, Suluban, dan pantai-pantai mainstream lainnya di Bali. Bersama staf profesional yang terlatih, para tamu di Nihiwatu bisa memancing di laut lepas, snorkeling, juga spearfishing. Saat sunset, tamu akan diajak menikmati terbenamnya matahari dengan naik kuda di pesisir pantai.

Hotel Nihiwatu adalah gambaran nyata bagaimana yang lokal, natural, apa adanya bisa bernilai luar biasa. Jangan pernah membayangkan bahwa Nihiwatu menjadi yang terbaik karena menggunakan aksesoris atau barang-barang import dan perhiasan dari London, Italia, Paris maupun luar negeri. Bukan. Hotel Nihiwatu sangat memuliakan potensi lokal, memartabatkan barang-barang lokal. Nihiwatu yang tarif per malam dimulai dari 650 dollar AS (Rp8,5 juta) untuk One Bedroom Villa sampai 12.000 dollar AS (Rp157 juta) untuk Five Bedroom Estate adalah tentang batu alam, pepohonan, kayu, bambu, pasir, kerikil, anyaman, ilalang, ijuk, tanduk kerbau, dan berbagai aksesoris lokal.

Nihiwatu itu soal lokalitas yang bercitarasa global; natural yang berdaya magis artistik. Sesuatu yang apa adanya ketika dikemas dengan unsur seni tinggi dan dikelola dengan hati maka hasilnya akan seluar biasa Nihiwatu. Tarif hotel yang terbilang sangat mahal untuk ukuran kita di Indonesia ini adalah harga yang pantas untuk martabat potensi lokal kita, yang tidak semua orang merasakan pentingnya.

Citarasa Budaya

Selain sisi lokalitas yang menjadi keunggulan, Nihiwatu juga menawarkan tak hanya  pemandangan alam yang indah namun juga pengalaman budaya yang luar biasa. Nihiwatu yang berada di Kecamatan Wanokaka sangat akrab dengan budaya Pasola yang sangat mendunia itu. Nihiwatu dan Pasola adalah ikon pariwisata Sumba Barat dan NTT.

Pasola berasal dari kata “sola” atau “hola”, mendapat imbuhan `pa’ (pa-sola, pa-hola), yang berarti berarti permainan ketangkasan saling melempar lembing kayu dari atas punggung kuda yang sedang dipacu kencang antara dua kelompok yang berlawanan. Pasola atau pahola merupakan bagian dari serangkaian upacara tradisional yang dilakukan oleh orang Sumba yang masih menganut agama asli yang disebut Marapu (agama lokal masyarakat sumba). Permainan pasola diadakan pada empat kampung di Kabupaten Sumba Barat. Keempat kampung tersebut antara lain Kodi, Lamboya, Wanokaka, dan Gaura. Pelaksanaan pasola di keempat kampung ini dilakukan secara bergiliran, yaitu antara bulan Februari hingga Maret setiap tahunnya.

Tanggal 12 Mei 2016 lalu, saya ke Sumba Barat dan mengunjugi arena Pasola. Saya melihat bahwa arena yang ada sudah tidak representatif. Selain karena lapangannya sempit, juga para penonton atau pengunjung tidak memiliki tempat yang nyaman untuk menyaksikan atraksi Pasola ini. Saya menyampaikan kepada Pemkab Sumba Barat untuk mencari lokasi yang baru dan berkoordinasi dengan Bidang Penataan Bangunan dan Lingkungan Cipta Karya agar membuat desainnya sembari saya memperjuangkan usulan itu di tingkat pusat.

Tanggal 15 Mei 2017 kemarin, persis setahun, saya datang lagi ke Sumba Barat dan langsung mengunjungi area pasola untuk memastikan bahwa tahun ini akan segera dibangun kawasan Pasola di desa Pahola Kecamatan Wanokaka Sumba Barat. Di kawasan ini tidak saja arena untuk atraksi, tetapi juga dibangun tribun yang nyaman buat penonton, spot-spot khusus untuk tempat bermain anak-anak, taman-taman buat rekreasi. Jadi kawasan ini tidak berfungsi pada saat digelar pasola tetapi setiap hari dimanfaatkan sebagai kawasan bermain dan rekreasi. Akses air besih juga disiapkan di kawasan ini. Akses jalan menuju lokasi ini juga akan dibangun dan ditingkatkan. Prinsipnya, pasola membuka akses ke Nihiwatu dan Nihiwatu mendukung budaya pasola di Sumba Barat.

Menteri Pariwisata Arief Yahya dalam acara jumpa pers ‘Nihiwatu Resort Terpilih Sebagai Hotel Terbaik Dunia’ di Gedung Sapta Pesona Kementerian Pariwisata, Jakarta (18/7/2016) menyatakan bahwa Nihiwatu adalah contoh yang baik tentang pembangunan eco tourism yang berdasarkan environment (lingkungan), community (komunitas masyarakat), dan ekonomis. Paling penting adalah ketika membangun berdasarkan sustainable tourism development (pembangunan wisata yang berkelanjutan). Menurutnya, Kemenpar akan menjadikan Nihiwatu Resort sebagai model pembangunan eco tourism. 

Melalui Nihiwatu Sumba Barat dipromosikan baik dalam pembangunan infrastruktur maupun sumber daya manusia.  Nihiwatu Resort memang agak berbeda dengan kebanyakan hotel. Di sini para tamu diajak untuk berguna bagi orang lain. Tiap tamu yang menginap akan ditayangkan film pendek mengenai Sumba Foundation, organisasi yang membantu komunitas lokal Sumba. Selama 14 tahun belakangan, para tamu di Nihiwatu diajak untuk ikut membantu pembangunan mata air di desa, klinik kesehatan, malaria training center, dan program penanggulangan kelaparan.

“Apa yang kita dapatkan dari penghargaan tersebut adalah kebanggaan. Kebanggaan bagi Nihiwatu management, bagi Sumba Barat, bagi Indonesia. Terima kasih Nihiwatu, Anda menginspirasi kami,” kata Arief Yahya kala itu.

Selain sentuhan potensi dan budaya lokal, Nihiwatu  mempekerjakan 90 persen pekerja lokal dari masyarakat setempat. Menurut Bupati Sumba Barat, Agustinus Niga Dapawole, sebanyak 400 orang karyawan di Nihiwatu adalah karyawan lokal yang sekarang tingkat hidup mereka lebih baik dari hari kemarin. “Gaji mereka sampai lima juta. Melebihi UMR (Upah Minimun Regional) dan Nihiwatu melakukan hal yang baik dengan membayar pajak daerah sebesar Rp 1,8 miliar,” kata Agustinus.

Nihiwatu adalah teks pembelajaran bahwa yang lokal dan natural itu ada nilainya jika dimuliakan dan dikelola dengan hati. Kita mesti percaya diri dengan potensi lokal yang kita miliki. Budaya kita adalah kekayaan kita. Kearifan lokal kita keunggulan kita. Sudah saatnya lokalitas itu memartabatkan kita.