Bintangtimur.news – Kupang – Beruntung, NTT memiliki Akademi Sepakbola Bintang Timur Atambua dan Bali United Kupang Akademi. Dua manajemen sepakbola yang siap mengelola sepakbola dengan metode modern dan profesional.

Pendiri Akademi Sepakbola Bintang Timur Atambua Fary Djemi Francis dan pendiri Bali United Kupang Akademi David Fulbertus, dalam diskusi terbatas bersama mantan pelatih Timnas U-19 Indonesia Indra Sjafri, konsultan teknis pengelolaan stadion Indonesia Utama Zulfikar, dan Asisten Pelatih Timnas Pelajar U-16 Indonesia Dwi Pranayudha, tegas berkomitmen untuk memajukan sepakbola NTT.

Menurut Fary, komitmen untuk memajukan sepakbola NTT sudah sejak lama. Persiapan teknis untuk mewujudkan  komitmen itu sudah dan terus dilakukan sampai saat ini.

“Sebagai mantan pemain, kami tahu persis bagaimana suka duka mengurus sepakbola. Karena itu, dengan komitmen yang ada, walau ditengah keterbatasan, kami tetap bergerak untyuk membangun sepakbola NTT menjadi salah satu daerah di Indonesia yang memiliki tradisi sepakbola nasional,” ujarnya.

Fary menambahkan, untuk mewujudkan komitmen tersebut memang bukan perkara mudah. Dukungan dari semua komponen pegiat sepakbola dan pemangku kepentingan sepakbola di NTT sangat diharapkan, agar proses meraih “emas” sepakbola NTT bisa diwujudkan.

“Saatnya kita tidak hanya bicara namun berbuat untuk sepakbola NTT.  Karena itu, kami mendirikan SSB dan Akademi Sepakbola Bintang Timur di Atambua, Kupang, Flores Timur, dan Ngada. Kita akan kembangkan lagi di wilayah Sumba. Tentu, dukungan semua pihak selalu kami harapkan,” pungkasnya.

Menurut David Fulbertus, sebagai mantan pemain, dia punya mimpi ada tim sepakbola asal NTT yang bermain di Liga !. Mimpi dan komitmen itu sejalan dengan obsesi yang dimiliki Fary Djemi Francis.

“Setelah kami cermati, ternyata NTT memiliki banyak mutiara sepakbola. Sayangnya, mutiara tersebut belum dikelola maksimal, sehingga cahayanya tidak terlalu berkilau. Kami berjanji dan komitmen untuk memberi cahaya bagi sepakbola NTT, dengan cara kami dan kemampuan yang kami miliki,” ujar David.

Menuurt David, kolaborasi dengan semua komponen selalu dilakukan agar sepak bola NTT bisa berprestasi di level nasional.

“Bersinergi bersama dengan semua SSB, klub sepakbola, dan akademi sepakbola yang ada di NTT, dan tim Liga I terus dilakukan, sehingga mutiara NTT ini bisa bercahaya. Kita tidak bisa bekerja sendiri, dukungan orang lain sangat penting,” tegasnya.

Sementara Indra  Sjafri menegaskan, NTT beruntung memiliki dua talenta potensial seperti Fary Djemi Francis dan David Fulbertus.

“Dua orang itu sudah sangat “gila’ dalam mengurus sepakbola di NTT. Tentu NTT sangat rugi kalau tidak memanfaatkan kemampuan yang dimiliki Pak Fary dan Pak David. Pembuktiannya sudah bisa ditunjukkan saat ini, mereka berdua memiliki SSB dan Akademi Sepakbola, infrastruktur lapangan yang memadai, dan manajemen sepakbola yang modern. Saya yakin dan percaya, sepakbola NTT akan maju, apabila diurus oleh tangan dan orang yang benar, orang yang mengerti tentang  sepakbola,” tegas Indra.

Utama Zulfikar menambahkan, sepak bola NTT sudah mulai bergeliat, begiru juga dengan infrastruktur stadion. Untuk  menambha kualitas sepakbola di setiap daerah, perlu memperbanyak fasilitas stadion yang sesuai standar.

“Kalau semakin banyak stadion, saya yakin sepakbola NTT bisa mengalahkan prestasi sepakbola wilayah lain di Indonesia,” ujarnya. (AM7)