ANTARA/ADENG BUSTOMI STANDAR FIFA: LAPANGAN BOLA LODAYA SAKTI DI DESA CISAYONG, TASIKMALAYA, JABAR, DIFOTO DARI UDARA SELASA (23/10) LALU. LAPANGAN SELUAS 93 X 54 METER DAN MEMAKAI RUMPUT ZOYSIA MATRELLA YANG DIDATANGKAN DARI EROPA DAN BERSTANDAR FEDERATION OF INTERNATIONAL FOOTBALL


Bintangtimur.news – Jakarta – KISAH sukses penggunaan dana desa kini banyak didapati di berbagai wilayah Tanah Air. Akibat kucuran dana yang bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja negara, kini banyak desa dan masyarakat desa merasakan manfaatnya.

Seperti ditulis mediaindonesia.com, Cisayong ialah salah satu dari ribuan desa tersebut. Berkat dana desa, desa yang terletak di Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, itu kini memiliki sarana lapangan sepak bola modern berstandar Federation of International Football Association (FIFA).

Lapangan sepak bola itu dibangun di atas lahan milik pemerintah desa dengan memakai anggaran dana desa sebesar Rp1,4 miliar.

Kepala Desa Cisayong Yudi Cahyudin mengatakan pembangunan lapangan sepak bola itu bertujuan meningkatkan perekonomian, kesejahteraan, dan kemandirian masyarakat.

Kini sarana olahraga tersebut telah diberi nama Lapangan Bola Lodaya Sakti. Di lapangan seluas 93 x 54 meter itu telah terhampar rumput jenis Zoysia matrella, atau dikenal dengan nama rumput manila.

Rumput Zoysia matrella dikenal memiliki kualitas tinggi dengan kerapatan, elastisitas, kemampuan menahan beban, pemulihan diri, dan perakaran yang sempurna sehingga hal itu bisa mengurangi risiko cedera bagi para pemain.

Sebelum mendapatkan dana desa dari pusat, Desa Cisayong hanya bisa menggunakan anggaran dari pemerintah daerah untuk perbaikan jalan, sarana dan prasarana, irigasi, dan renovasi madrasah.

Dengan adanya dana desa tersebut, menurut Yudi, Cisayong mampu membangun sarana olahraga yang sebelumnya tidak terbayangkan.

Menurutnya, pembangunan lapangan sepak bola di Desa Cisayong akan membawa perubahan positif di masa depan. Masyarakat pun dapat memanfaatkan lapangan itu sebagai tempat rekreasi dan jogging track sehingga kelak hal itu bisa mendongkrak perekonomian masyarakat.

Selama ini, masih menurut Kepala Desa Cisayong, lapangan tersebut telah disewakan untuk masyarakat umum secara komersial, dengan biaya Rp500 ribu per sekali main. Urusan sewa lapangan pun dikelola secara profesional. Badan usaha milik desa (BUM-Des) Sakti Lodaya diberi tugas untuk mengelola lapangan itu.

Yudi mengakui kondisi sarana olahraga tersebut belum sempurna. Di lapangan itu direncanakan dibangun tribune dan fasilitas lain dengan total anggaran Rp3 miliar. “Mudah-mudahan jumlah anggaran dana desa tahun depan bisa bertambah.”

Ia berharap lapangan itu dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat. “Mereka mandiri, makmur, dan (pemanfaatan lapangan) menurunkan angka kemiskinan sehingga mereka sejahtera,” kata Yudi.

Kini, lapangan itu pun menjadi ikon Desa Cisayong. Itu juga diharapkan jadi tempat lahirnya tim dan pemain andal yang ikut memajukan sepak bola Indonesia. (AM7/*)

sumber berita : mediaindonesia.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here