PSSI Pusat melalui tangan dingin komandan barunya Letjen Edy Rahmayadi terus melakukan inovasi. Salah satu yang dilakukan adalah membentuk departemen baru yaitu Departemen Sport Intelligence (DSI). Departemen ini menjadi salah satu faktor penentu peningkatan prestasi sepakbola Indonesia.

Untuk mendukung kerja cepat dan tepat Ketua Umum PSSI Pusat, DSI dibawah pimpinan ketuanya Fary Francis,  melakukan pertemuan dengan pengurus PSSI Pusat, di FX Plaza, Sabtu (25/2).

Hadir dalam pertemuan itu, Wakil Sekjen PSSI Pusat Fanny Riawan, Komite Ad Hoc Percepatan Pembangunan Sepakbola Nasional Hengki Purwoko, Departemen Perwasitan Purwanto,  Ashari Joni dari Personalia, John Fresly Hutahayan dari Departemen Kepatuhan, Gede Widiade dari Staf Ahli Timnas,  Komisi Banding, dan Komisi Disiplin.

Ketua DSI Fary Francis, kepada bintangtimur.id, usai pertemuan mengatakan, tugas departemen ini sangat besar. Sebagai lembaga baru di PSSI, tentu tantangannya juga besar. Karena itu, untuk mencari formula yang tepat dalam mencapai tujuan yang sudah digariskan Ketua Umum, pihaknya menggelar pertemuan terbatas ini. “Saya bersyukur beberapa departemen terkait juga muncul dalam memberi masukan, ide dan gagasan, yang bertujuan agar lembaga ini harus segera bekerja, karena tantangan pertama sudah di depan mata yakni SEA Games,” tegasnya.

Menurut Fary, sesuai hasil diskusi, ada beberapa poin penting program kerja yang menjadi tugas utama lembaga ini, yaitu, menyiapkan  data base pemain, pelatih, dan wasit, peta kekuatan lawan, statistik tim lawan, menyiapkan sumber daya manusia administrasi yang berkualitas, perbaikan dan pembangunan infrastruktur sepakbola, “Kami diminta membuat informasi detail berkaitan dengan pemain Timnas, sehingga bisa dijadikan profil pemain. Selain itu, juga diberikan tugas untuk menata supporter Indonesia yang bisa bersinergi dalam membangun prestasi sepakbola nasional,” ujarnya.

Poin penting lainnya, lanjut Fary, DSI diharapkan dapat melakukan pengawasan terhadap persiapan Tim Nasional Indonesia di semua kategori usia, mengawasi program latihan, memberi masukan yang membangun, “Kita juga melakukan pengamanan informasi yang mendukung perkembangan dan penampilan yang maksimal di setiap kompetisi, dan mengawasi perlakuan klub dan Timnas terhadap semua pemain,” ungkapnya.

Fary menambahkan, untuk keamanan informasi, maka DSI perlu melakukan penggalangan media berkaitan dengan pemberitaan. Menggalang kerja sama dengan pihak eskternal baik lokal, nasional, dan internasional, berkaitan dengan pemain lawan, calon pemain naturalisasi, tim lawan, dan pelatih. “DSI memiliki program kerja yang komprehensif, bersentuhan langsung dengan prestasi sepakbola Indonesia. Tugas ini yang diberikan ketua umum kepada saya dan teman-teman di DSI,” tegasnya.

Fary berharap dukungan dari semua sumber daya sepakbola Indonesia, sehingga semua program DSI dan PSSI Pusat, bisa berjalan sesuai dengan target yang diharapkan. “Kami tidak bisa bekerja sendiri. Dukungan dari semua pelaku sepakbola sangat kami harapkan,” ujarnya.

Wartawan Senior Kompas Yesayas Oktovianus mengatakan, sebuah kebanggaan mendapat tugas yang sangat penting ini. “Saya yakin Pak Fary bisa menjembatani semua tugas yang diberikan. Bagi saya, Departemen Sport Intelligence ini sangat penting untuk kemajuan prestasi sepakbola nasional,” tegasnya.

Ketua Umum PSSI Pusat Edy Rahmayadi dalam rapat pengurus beberapa waktu lalu kembali menegaskan soal pentingnya koordinasi dan komunikasi.  PSSI tidak akan berkembang kalau berjalan sendiri-sendiri. Karena itu, koordinasi dan komunikasi antara PSSI Pusat, Asprov PSSI, dan Askab/Askot PSSI harus intens dilakukan. “Setiap sistem di PSSI harus bekerja sesuai dengan tugas yang sudah digariskan. Target besar kita adalah kembali meningkatkan prestasi sepakbola Indonesia. Yang tidak mendukung atau memperlambat proses kita segera ambil langkah organisasi,” tegasnya. (alc)